Minggu, 25 Maret 2012

Ketika Aku Berada di Titik 21

“Sekarang kamu lebih terbuka, Mbah,” Kata cucuku. 

Kami memutuskan untuk kembali bertemu tepat di hari ulangtahunku. Bukan karena aku berharap untuk diberi kado, dan bukan karena dia berharap untuk ditraktir. Aku yakin. Tapi lebih karena kami sadar dan tahu betapa berartinya persahabatan kami yang telah begitu lama tak dipupuk.

Sekian lama tak bertemu, banyak hal yang terlewatkan, dan entah mengapa aku merasa perlu menceritakan semuanya. Cucuku tampak jauh lebih dewasa sekarang, dan mungkin dia bisa memberikan nasehat yang dewasa juga. Aneh memang, Mbah meminta nasehat pada cucunya.

Kami bertemu lagi di saat usiaku menginjak 21, “Kamu tambah tua, Mbah”, Katanya lagi. Aku tahu itu benar, aku sudah bertambah tua, dan berharap juga makin dewasa.

Menjadi seseorang berumur 21 tak jauh beda rasanya dari ketika berumur 20. Bukan suatu lompatan besar, tidak seperti ketika kau terbiasa berumur belasan dan tiba-tiba dipaksa untuk berusia 20, berkepala dua. Namun, di usia ini aku ingin bisa melakukan sesuatu yang agak besar. Going abroad, mungkin. Meski itu terasa tak mungkin. Well, bermimpi kan tak ada salahnya.

Dan aku telah mengusahakan beberapa perubahan. Tahun ini aku sudah mengantongi SIM, sudah pegang motor sendiri. Bukan sesuatu yang luar biasa yang bisa kau banggakan saat umurmu sudah 21 tahun, memang. Tapi entah mengapa aku tetap senang. Tidak seperti weekend biasanya di mana aku hanya bisa melongo di kamar kos, sekarang aku bisa jalan-jalan, exploring new places, getting new experiences. Baru 2 minggu dan aku sudah jalan-jalan ke banyak tempat yang belum pernah aku kunjungi selama hamper 3 tahun aku tinggal di semarang. Betapa hal kecil bisa membawa perubahan yang besar.

Hal lain, aku sudah mencoba melamar pekerjaan. Bukan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang. Bahkan aku tidak yakin apa aku diterima kerja di sana. Tapi kan tidak ada salahnya mencoba. Betul?

Satu hal yang masih jauh dari jangkauan.
“Mbah, aku pengen nikah,” Kata cucuku. Dia dan pacarnya yang belum genap setahun, sudah begitu serius dan yakin, membuat aku sedikit iri. Begitu sempurnanya hidup mereka.

“Ntar dulu, Cu. Kamu cariin pacar buat Simbah dulu, baru kamu boleh nikah.” Well, mungkin sekarang hidupku belum sempurna, but someday it will. I'm sure.

0 comments:

 
Diberdayakan oleh Blogger.