Selasa, 09 Agustus 2011

Ketika Ajal Menjemput



... انّا للہ و انّا الیہ راجعون


Kemarin, 2 orang suami terenggut dari dunia, meninggalkan istri dan anak-anaknya. Tak terbayangkan ditinggal pergi orang terkasih untuk selama-lamanya. Sedih. Itu pasti. Lebih sedih dari patah hati, ditinggal pacar, dicuekin gebetan.


Tapi itulah takdir Illahi yang tak dapat diubah. Sudah jadi ketetapan.

"dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun." (QS. Al A'raf ayat 34).

Saya bukan sedang ceramah. Tidak. Saya tidak layak jadi penceramah. Sangat. Saya hanya menuliskan apa yang ada di sekitar saya. Seorang istri yang berusaha tegar mengaji di depan mayat suaminya disela derai airmata. Anak lelaki semata wayang, kelas V SD, yang juga ikut mengaji sesenggukan. Memikirkan sang ayah yang tak dapat lagi menemaninya bermain dan belajar.

Melihat orang mati tidak membuat saya sedih. Semua orang pasti mati. Yang membuat haru adalah bagaimana perjuangan orang yang ditinggalkan melanjutkan hidup tanpa sang terkasih.

Terbayang di depan mata saya bagaimana seorang ibu muda dari keluarga nan sederhana harus membiayai hidup anaknya seorang diri. Meninggalkan desa. Bekerja di kerasnya kehidupan kota. Meninggalkan anak yang masih kecil bersama nenek yang juga telah menjanda. Sedih.



Tadi pagi dalam perjalanan solat Subuh di mushola, melewati rumah yang tak lagi berwarna, terlihat sang istri mengaji merdu dalam balutan mukena. Trenyuh. Itu yang saya rasa. Dan kagum akan ketegarannya. Begitulah seorang istri seharusnya. Betapa pun sedihnya harus merelakan kepergian sang suami, serta tak henti mengirim doa untuknya.

Sang anak pun berusaha bangkit. Bertemu dengan senyum lesunya di mushola usai solat berjamaah tadi membuat saya tersadar ketika ajal menjemput tak ada yang dapat menolak, tak ada yang dapat menawar. Yang bisa kita lakukan adalah mengikhlaskannya.


0 comments:

 
Diberdayakan oleh Blogger.