Sabtu, 09 April 2011

Selingkuh itu...

“Kamu tuh gimana sih, temennya selingkuh kok dibiarin!”

“Ya biarin lah, itu kan urusan dia, saya sama sekali enggak berhak ikut campur.”

“Kamu itu temennya, Ta. Kamu enggak boleh biarin dia berbuat yang enggak bener kayak gini””

“Kamu tuh pacarnya Ana, Ra. Kamu yang seharusnya gak terus-terusan nyakitin dia.”

“Kamu ngomong apa sih. Gak usah bikin-bikin cerita yang mojokin aku!”

“Kamu tahu aku enggak sedang mengarang cerita apa pun. Itu semua nyata. Denger, kamu enggak punya kuasa apa pun untuk mengendalikan hidupnya seolah dia itu robot bikinanmu sendiri.”

“Jangan ngawur, Ta. Selama ini aku yang menderita, bukan dia! Ini semua salah kamu, kalau saja kamu tidak membiarkan Ana selingkuh, pasti..”

“Salah aku? Hebat benar kamu main lempar kesalahan ke aku. Aku ini cuma orang luar yang secara kebetulan kenal dan jadi temennya Ana, aku gak ngerti apa-apa tentang hubungan kalian. Satu-satunya hal yang aku tahu adalah bahwa hubungan kalian sudah tidak sehat sejak lama. Jadi kamu sama sekali enggak punya alasan kuat buat nyalahin aku tentang perselingkuhan ini. Dan tolong jangan ngebentak-bentak aku!”

“Tapi kamu disana, bersama Ana dan dia! Dan kamu membiarkan saja perbuatan hina itu terjadi.”

“Itu bukan perbuatan hina, Tuan. Ana hanya ingin bahagia. Kamu tahu siapa yang patut disalahkan? KAMU. Enggak usah sok menderita dan coba-coba menyalahkan orang lain. Ini adalah hasil dari perbuatanmu sendiri. Saya tahu hubungan kalian sudah seperti neraka bagi Ana, sementara kamu tidak mau melepaskan dia dan membiarkannya pergi. Anda terus-menerus merongrong dan memaksanya melakukan hal yang kamu mau. Saya tidak akan menyalahkan Ana jika akhirnya dia memilih jalan ini, selingkuh. Jika kamu tak mampu membahagiakannya, biarkan dia pergi dan mencari kebahagiaannya sendiri.”

...

“Satu hal lagi, lihat ke dalam diri kamu. Introspeksi. Jangan asal menyalahkan orang atas kesalahan yang kamu ciptakan sendiri.”

“Jangan sembarangan ngomong kamu, dasar wanita tak tahu diri. Pakai jilbab kok ngomong gak dijaga. Kamu sudah berdosa dengan berkata seperti itu, njelek-njelekin aku padahal itu enggak benar!”

“Kamu tahu? Dengan kamu marah-marah begitu semuanya jadi semakin jelas. Dan nilai kamu makin turun di mata saya. Dan tolong gak usah ngomongin dosa seolah kamu gak punya dosa. Dan satu lagi, masih mending saya pake jilbab, selingkuhan kamu kan badan, hati, sama otaknya gak dibungkus, berceceran dimana. Oh ya, sekalian salam buat dia deh. Assalamualaikum.”

KLIK. Suara telpon ditutup.



Hore hore...!
itu barusan cerpen pertama saya loh... udah lama pengen nulis cerpen tapi selalu berhenti di tengah jalan, ketabrak mobil deh, hehe.
Nah, kemaren ini baru dapet ilham buat nulis lagi (senengnya..). Dan berhubung saya masih amatir, harap maklum kalau hasilnya  seadanya. Semoga cerpen-cerpen berikutnya segera menyusul dan hasilnya juga makin baik, amiiin.

Oh iya, silakan dikomentari kalo ada yang kurang ^-^

2 comments:

M Yusuf mengatakan...

Aku kaget :-|

kirain endingnya mau jambak2an rambut terus salah satu diantaranya mati. tragis!!
ternyata klik. percakapan via telepon -,-

daffodil mengatakan...

hehehehe, kalo yang model begitu sih udah biasa mas, sinetron banget,,, wkwkwk

cita2 saya itu, bikin cerita yg endingnya unpredictable :P

 
Diberdayakan oleh Blogger.